Nama               : Moh. Qomarudin

NIM                : G34070123

ALKALIMETRI DAN POTENSIOMETRI

  1. I. Prinsip Teori Percobaan

Asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa, sedangkan alkalimeteri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. Oleh sebab itu, keduanya disebut juga sebagai titrasi asam-basa. Asidimetri dapat diartikan sebagai pengukuran jumlah asam ataupun pengukuran dengan asam (yang diukur jumlah basa atau garam), dengan asam sebagai titran.  Secara tersirat, bahwa titrasi asidimetri-alkalimetri menyangkut reaksi dengan asam  dan/atau basa diantaranya : asam kuat – basa kuat, asam kuat – basa lemah, asam lemah – basa kuat, asam kuat – garam dari asam lemah, basa kuat – garam dari basa lemah. Perubahan titik akhir dan cara perhitungan adalah perubahan pH titrat (larutan yang dititrasi) (Harjadi 1986).

Suatu eksperimen dapat diukur dengan menggunakan dua metode yaitu, pertama (potensiometri langsung) yaitu pengukuran tunggal terhadap potensial dari suatu aktivitas ion yang diamati, hal ini terutama diterapkan dalam pengukuran pH larutan air. Kedua (titrasi langsung), ion dapat dititrasi dan potensialnya  diukur sebagai fungsi volume titran.  Potensial sel, diukur sehingga dapat digunakan untuk menentukan titik ekuivalen. Suatu petensial sel galvani bergantung pada aktifitas spesies ion tertentu dalam larutan sel, pengukuran potensial sel menjadi penting dalam banyak analisis kimia (Basset 1994).

Reaksi-reaksi yang berperan dalam pengukuran titrasi potensiometri   yaitu reaksi pembentukan kompleks reaksi netralisasi dan pengendapan dan reaksi redoks. Pada reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan, endapan yang terbentuk akan membebaskan ion terhidrasi dari larutan.  Umumnya digunakan elektroda Ag dan Hg, sehingga berbagai logam dapat dititrasi dengan EDTA. Reaksi netralisasi terjadi pada titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda indikatornya elektroda gelas. Tetapan ionisasi   harus kurang dari 10-8. Sedangkan reaksi redoks dengan elektroda Pt atau elektroda inert dapat digunakan pada titrasi redoks. Oksidator kuat (KMnO4, K2Cr2O7, Co(NO3)3) membentuk lapisan logam-oksida yang harus dibebaskan dengan reduksi secara katoda dalam larutan encer (Khopkar 1990). Persamaan Nernst memberikan hubungan antara potensial relatif suatu elektroda dan konsentrasi spesies ioniknya yang sesuai dalam larutan. Potensiometri merupakan aplikasi langsung dari persaman Nernst dengan cara pengukuran potensial dua elektroda tidak terpolarisasi pada kondisi arus nol. Dengan pengukuran pengukuran potensial reversibel suatu elektroda, maka perhitungan aktivitas atau konsentrasi suatu komponen dapat dilakukan (Rivai 1995).

  1. II. Tujuan Percobaan

Untuk melatih melakukan analisis asidi-alkalimetri sederhana dan menentukan konsentrasi HCl dengan analisis potensiometri.

  1. III. Prosedur Percobaan

Standardisasi NaOH dengan Asam Oksalat. Kristal asam oksalat ditimbang sebanyak 0,315 gram kemudian dilarutkan dalam 50 ml akuades. 10 ml larutan asam oksalat diambil dan dititrasi dengan NaOH dengan indikator fenolftalin. Titrasi dihentikan ketika terjadi perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah yang tiba-tiba muncul. Volume NaOH yang terpakai dihitung. Percobaan ini dilakukan enam kali.

Penentuan kadar asam cuka murni dalam cuka biang. 1 ml cuka biang dipindahkan ke dalam erlenmeyer. Larutan tersebut kemudian diencerkan dengan akuades sampai 100 ml. 10 ml larutan tersebut diambil dan dititrasi dengan NaOH dengan indikator fenolftalin. Titrasi dihentikan ketika terjadi perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah yang tiba-tiba muncul. Volume NaOH yang terpakai dihitung. Percobaan ini dilakukan enam kali.

Standardisasi NaOH. Asam oksalat 0,1 N diambil sebanyak 10 ml kemudian dipindahkan ke dalam gelas piala 200 ml. Larutan kemudian diencerkan sampai 100 ml dengan akuades. Elektroda gelas kombinasi dicelupkan dan strirer ditempatkan ke dalam larutan. Larutan dititrasi dengan NaOH 0,1 N. GGL larutan dibaca dengan interval volume 0-5 ml pada penambahan 1 ml, 5-15 ml pada penambahan 0,5 ml, dan 15-20 ml pada penambahan 1 ml. Percobaan dilakukan sebanyak tiga kali ulangan.

Penentuan konsentrasi HCl. HCl 0,1 N sebanyak 10 ml diencerkan dengan 100 ml akuades. Alat dipasang dan elektroda dihubungkan dengan potensiometer lalu alat dihubungkan dengan sumber arus. Titik nol ditepatkan dari potensiometer dan besar potensial larutan ditetapkan dengan memakai skala 0-100 mV. Larutan dititrasi dengan NaOH 0,1 N. GGL larutan dibaca dengan interval volume 0-5 ml pada penambahan 1 ml, 5-15 ml pada penambahan 0,5 ml, dan 15-20 ml pada penambahan 1 ml. Percobaan dilakukan sebanyak tiga kali ulangan.

  1. IV. Hasil Pengamatan

Tabel 1 Standardisasi NaOH dengan Asam Oksalat.

Ulangan V. Asam Oksalat (ml) V. NaOH (ml) [NaOH]

(N)

Awal Akhir Terpakai
1 10 0 11.0 11.0 0.0910 0.0909
2 10 11.0 21.5 10.5 0.0953 0.0952
3 10 21.5 32.3 10.8 0.0927 0.0926
4 10 32.3 43.0 10.7 0.0935 0.0934
5 10 0.5 11.5 11.0 0.0910 0.0909
6 10 11.5 22 10.5 0.0953 0.0952
0.0931 0.0930

Contoh Perhitungan :

Indikator yang digunakan: fenolftalein (PP)

Reaksi pembuatan asam oksalat:

(COOH)­2 (P) + 2 H2O              (COOH)­2 (aq) + 2 H2O

Reaksi standarisasi NaOH 0,1 M oleh asam oksalat:

2NaOH + (COOH)­2 (COONa)2 + 2 H2O

Titrat: asam oksalat, titran: NaOH

Perubahan warna dari asam ke basa: bening menjadi merah muda

  1. a. Bobot ekivalen asam oksalat

BE =   =  = 63 g/eq

  1. b. Bobot asam oksalat perhitungan

M =

0.1  =

100 g = 63

Bobotasam oksalat = 0.63 gram

  1. c. Bobot asam oksalat hasil penimbangan

N =

N =

Nasam oksalat = 0.1001 N

  1. d. Standardisasi NaOH

(V x N)NaOH= (V x N)asam oksalat

11.0 x NNaOH = 10 x 0.1001

NNaOH = 0.0910 N

  1. e. Standar Deviasi

SD =

SD =

SD = 1.77×10-3

  1. f. % Ketelitian

% ketelitian = 1- x 100%

% ketelitian = 1-  x 100%

% ketelitian = 100.1075 %

Tabel 2 Penentuan kadar asam cuka murni dalam cuka biang.

Ulangan V. NaOH (ml) N. asam cuka biang N. asam cuka biang sebenarnya Kadar asam cuka biang

(%b/v)

Awal Akhir Terpakai
1 15.0 16.2 1.2 0.0112 1.12
2 16.2 17.5 1.3 0.0121 1.21
3 17.5 18.2 0.7 0.0065 0.65
4 18.2 19.4 1.2 0.0112 1.12
5 19.4 20.7 1.3 0.0121 1.21
6 20.7 21.5 0.8 0.0074 0.74

Contoh Perhitungan:

Indikator: fenolftalein (PP)

Reaksi:

NaOH + CH3COOH               CH3COONa + H2O

Perubahan warna dari asam ke basa: tidak berwarna             merah muda

  1. a. Konsentrasi asam cuka biang

(VxN)asam cuka = (VxN)NaOH

10 x Nasam cuka = 1.2 x 0.0931

Nasam cuka = 0.0112 N

  1. b. Konsentrasi asam cuka biang sebenarnya

Nasam cuka sebenarnya = Nasam cuka x faktor pengenceran

Nasam cuka sebenarnya = 0.0112 x 100

Nasam cuka sebenarnya = 1.12 N

  1. c. Kadar asam cuka biang

Hasil Pengamatan Potensiometri

Tabel 3 Standardisasi NaOH Ulangan 1

Volume (ml) Ulangan 1 GGL (mV) turunan 1 turunan 2
0 227
1 225 -2
2 222 -3 -1
3 219 -3 0
4 213 -6 -3
5 200 -13 -7
5.5 195.2 -9.6 6.8
6 183.4 -23.6 -28
6.5 168.7 -29.4 -11.6
7 160.3 -16.8 25.2
7.5 155.2 -10.2 13.2
8 141.4 -27.6 -34.8
8.5 133.7 -15.4 24.4
9 127.4 -12.6 5.6
9.5 100.7 -53.4 -81.6
10 88.3 -24.8 57.2
10.5 62.7 -51.2 -52.8
11 55.4 -14.6 73.2
11.5 -219 -548.8 -1068.4
12 -242 -46 1005.6
12.5 -255 -26 40
13 -265 -20 12
13.5 -268 -6 28
14 -273 -10 -8
14.5 -276 -6 8
15 -279 -6 0
16 -283 -4 2
17 -287 -4 0
18 -289 -2 2
19 -291 -2 0
20 -293 -2 0

Gambar 1. Kurva hubungan antara volume dengan potensial listrik GGL (Ulangan 1)

Gambar 2. Kurva hubungan antara volume dengan turunan 1 (dE/dv) potensial listrik GGL (Ulangan 1)

Gambar 3. Kurva hubungan antara volume dengan turunan 2 (∆(dE/dv)) potensial listrik GGL (Ulangan 1)

Tabel 4 Standardisasi NaOH Ulangan 2

Volume (ml) Ulangan 2 Turunan 1 Turunan 2
0 222
1 221 -1
2 220 -1 0
3 218 -2 -1
4 210 -8 -6
5 206 -4 4
5.5 190.1 -31.8 -55.6
6 184.6 -11 41.6
6.5 167.4 -34.4 -46.8
7 158.1 -18.6 31.6
7.5 129 -58.2 -79.2
8 100.7 -56.6 3.2
8.5 81.5 -38.4 36.4
9 60.3 -42.4 -8
9.5 -126.4 -373.4 -662
10 -166.1 -79.4 588
10.5 -205 -77.8 3.2
11 -227 -44 67.6
11.5 -253 -52 -16
12 -261 -16 72
12.5 -266 -10 12
13 -272 -12 -4
13.5 -274 -4 16
14 -276 -4 0
14.5 -279 -6 -4
15 -280 -2 8
16 -284 -4 -2
17 -287 -3 1
18 -290 -3 0
19 -293 -3 0
20 -295 -2 1

Gambar 4. Kurva hubungan antara volume dengan potensial listrik GGL (Ulangan 2)

Gambar 5. Kurva hubungan antara volume dengan turunan 1 (dE/dv) potensial listrik GGL (Ulangan 2)

Gambar 6. Kurva hubungan antara volume dengan turunan 2 (∆(dE/dv)) potensial listrik GGL (Ulangan 2)

Tabel 5 Standardisasi NaOH Ulangan 3

Volume (ml) Ulangan 3 Turunan 1 Turunan 2
0 221
1 220 -1
2 218 -2 -1
3 215 -3 -1
4 206 -9 -6
5 193.8 -12.2 -3.2
5.5 191.4 -4.8 14.8
6 184.6 -13.6 -17.6
6.5 172.1 -25 -22.8
7 159.2 -25.8 -1.6
7.5 150.4 -17.6 16.4
8 143.7 -13.4 8.4
8.5 130 -27.4 -28
9 122.4 -15.2 24.4
9.5 110.4 -24 -17.6
10 92.7 -35.4 -22.8
10.5 72.6 -40.2 -9.6
11 6.6 -132 -183.6
11.5 -166 -345.2 -426.4
12 -239 -146 398.4
12.5 -256 -34 224
13 -264 -16 36
13.5 -270 -12 8
14 -274 -8 8
14.5 -277 -6 4
15 -281 -8 -4
16 -286 -5 3
17 -289 -3 2
18 -293 -4 -1
19 -295 -2 2
20 -298 -3 -1

Gambar 7. Kurva hubungan antara volume dengan potensial listrik GGL (Ulangan 2)

Gambar 8. Kurva hubungan antara volume dengan turunan 1 (dE/dv) potensial listrik GGL (Ulangan 3)

Gambar 9. Kurva hubungan antara volume dengan turunan 2 (∆(dE/dv)) potensial listrik GGL (Ulangan 3)

Tabel 6 Penentuan Konsentrasi HCl Ulangan 1

Volume Potensial listrik (mv) Turunan 1 Turunan 2
0 204
1 205 1
2 204 -1 -2
3 203 -1 0
4 202 -1 0
5 200 -2 -1
5.5 199 -2 0
6 197.6 -2.8 -1.6
6.5 195.8 -3.6 -1.6
7 194.3 -3 1.2
7.5 191.9 -4.8 -3.6
8 188.9 -6 -2.4
8.5 185.3 -7.2 -2.4
9 178.3 -14 -13.6
9.5 169.9 -16.8 -5.6
10 154.4 -31 -28.4
10.5 -55.5 -419.8 -777.6
11.5 -271 -215.5 204.3
12 -285 -28 375
12.5 -289 -8 40
13 -294 -10 -4
13.5 -298 -8 4
14 -303 -10 -4
14.5 -307 -8 4
15 -309 -4 8
16 -312 -3 1
17 -316 -4 -1
18 -319 -3 1
19 -321 -2 1
20 -324 -3 -1

Gambar 10. Kurva hubungan antara volume dengan potensial listrik GGL (Ulangan 1)

Gambar 11. Kurva hubungan antara volume dengan turunan 1 (dE/dv) potensial listrik GGL (Ulangan 1)

Gambar 12. Kurva hubungan antara volume dengan turunan 2 (∆(dE/dv)) potensial listrik GGL (Ulangan 1)

Tabel 7 Penentuan Konsentrasi HCl Ulangan 2

Volume Potensial listrik (mv) Turunan 1 Turunan 2
0 203
1 203 0
2 202 -1 -1
3 201 -1 0
4 199.5 -1.5 -0.5
5 197.7 -1.8 -0.3
5.5 196.4 -2.6 -1.6
6 195.2 -2.4 0.4
6.5 193.2 -4 -3.2
7 191.6 -3.2 1.6
7.5 189.3 -4.6 -2.8
8 185.7 -7.2 -5.2
8.5 182 -7.4 -0.4
9 176.9 -10.2 -5.6
9.5 165.6 -22.6 -24.8
10 148 -35.2 -25.2
10.5 -20.1 -336.2 -602
11 -258 -475.8 -279.2
11.5 -277 -38 875.6
12 -287 -20 36
12.5 -292 -10 20
13 -298 -12 -4
13.5 -302 -8 8
14 -305 -6 4
14.5 -308 -6 0
15 -309 -2 8
16 -315 -6 -4
17 -318 -3 3
18 -320 -2 1
19 -322 -2 0
20 -325 -3 -1

Gambar 13. Kurva hubungan antara volume dengan potensial listrik GGL (Ulangan 2)

Gambar 14. Kurva hubungan antara volume dengan turunan 1 (dE/dv) potensial listrik GGL (Ulangan 2)

Gambar 15. Kurva hubungan antara volume dengan turunan 2 (∆(dE/dv)) potensial listrik GGL (Ulangan 2)

Tabel 8 Penentuan Konsentrasi HCl Ulangan 3

Volume Potensial listrik (mv) Turunan 1 Turunan 2
0 201
1 201 0
2 200 -1 -1
3 199.1 -0.9 0.1
4 197.7 -1.4 -0.5
5 195.7 -2 -0.6
5.5 194.5 -2.4 -0.8
6 193.2 -2.6 -0.4
6.5 191.5 -3.4 -1.6
7 189.5 -4 -1.2
7.5 186.9 -5.2 -2.4
8 183.9 -6 -1.6
8.5 180 -7.8 -3.6
9 173.5 -13 -10.4
9.5 162.7 -21.6 -17.2
10 128.7 -68 -92.8
10.5 -188.5 -634.4 -1132.8
11 -258 -139 990.8
11.5 -276 -36 206
12 -287 -22 28
12.5 -295 -16 12
13 -299 -8 16
13.5 -303 -8 0
14 -307 -8 0
14.5 -309 -4 8
15 -312 -6 -4
16 -316 -4 2
17 -319 -3 1
18 -321 -2 1
19 -324 -3 -1
20 -325 -1 2

Gambar 16. Kurva hubungan antara volume dengan potensial listrik GGL (Ulangan 3)

Gambar 17. Kurva hubungan antara volume dengan turunan 1 (dE/dv) potensial listrik GGL (Ulangan 3)

Gambar 18. Kurva hubungan antara volume dengan turunan 2 (∆(dE/dv)) potensial listrik GGL (Ulangan 3)

  1. V. Pembahasan

Percobaan yang dilakukan pada alkalimetri mengunakan titrasi basa sebagai titran, basa yang diguanakan adalah NaOH. Dari hasil percobaan diketahui bahwa reaksi berasal dari asam dan basa kuat. Dalam menentukan standar deviasi dan ketelitian diperoleh melalui standardisasi larutan NaOH dengan larutan baku (COOH)2.2H2O dengan indikator yang digunakan adalah fenolftalein (PP). Indikator sebagai penanda terjadinya titik ekivalen (TE) titik akhir tercapai ditandai dengan adanya perubahan warna yaitu dari tidak berwarna (bening) menjadi merah. Perubahan tersebut dipenggaruhi oleh perubahan pH. Selain itu NaOH tersebut merupakan basa kuat, sedangkan fenolftalein merupakan indikator yang jenisnya asam dimana trayek pH berada antara . Intinya setiap indikator mempunyai trayeknya sendiri Reaksi pembuatan asam oksalat: (COOH)­2 (P) + 2 H2O                      (COOH)­2 (aq) + 2 H2O. Reaksi standarisasi NaOH 0,1 M oleh asam oksalat: 2NaOH + (COOH)­2 (COONa)2 + 2 H2O.

Tujuan intinya ialah melihat seberapa banyak NaOH yang terpakai sekaligus perhitungan Normalitasnya. NaOH mempunyai sifat Higroskopis (menarik air dari udara) dan mudah bereaksi dengan CO2 di udara sehingga sulit didapat dalam keadaan murni. Hal ini dapat diatasi dengan dilakukan standardisasi dengan larutan baku primer. Hasil percobaan menunjukan ketelitian yang cukup tinggi yaitu mencapai 100.1075 % dengan standar deviasinya 1.77×10-3. Rata-rata konsentrasi NaOH hasil standardisasi yaitu 0,0930 N. Data  ini menunjukan kebenaran data yang cukup akurat jika dilihat dari tingginya nilai ketelitian dan rendahnya nilai SD.

Hasil percobaan pertama standardisasi NaOH sebagai tahap awal dalam penentuan kadar asam cuka murni. Kenormalan rata-rata asam cuka biang     N, dengan nilai SD                  dan ketelitian        %. Adapun rata-rata kadar asam cuka murni dalam cuka biang adalah 1,205, dengan standar deviasi 0,0778 dan ketelitian 93,54%. Rata-rata volume titran yang terpakai adalah 7,6 ml. dari data tersebut dapat dilihat bahwa nilai kenormalan cuka biang dan kadar asam cuka murni cukup akurat karena nilai SDnya rendah dan nilai ketelitiannya cukup tinggi.

Titrasi potensiometri yang digunakan dalam percobaan ini merupakan salah satu metode elektroanalisis untuk menentukan konsentrasi suatu zat. Dalam percobaan ini, metode ini digunakan untuk menentukan konsentrasi NaOH. NaOH merupakan suatu basa higrokopis, Karena itu, dalam titrasi potensiometri, dapat dilakukan pengukuran pH berdasarkan konsentrasi OH. Hal tersebut menunjukkan terjadinya suatu reaksi penetralan larutan asam lemah yaitu asam oksalat dengan titran berupa basa kuat NaOH.  Larutan NaOH merupakan golongan oksidator kuat, yang mampu mengubah larutan yang bersifat asam menjadi larutan yang bersifat basa dengan penambahan volume NaOH ke dalam larutan asam yang berperan sebagai titrat.

Titrasi potensiometri yang digunakan untuk menentukan konsentrasi asam oksalat dilakukan dengan pengukuran pH pada setiap penambahan basa dengan volume tertentu. Penambahan basa (larutan NaOH) ini menyebabkan pH larutan semakin meningkat. Maka volume penambahan NaOH diatur atau berkurang dari 1 mL agar nilai pH yang terukur konstan. Pada titik-titik penambahan tertentu peningkatan pH mengalami lonjakan yang cukup besar. Lonjakan ini merupakan titik pH dimana larutan mencapai kesetaraan yaitu sebagai titik kesetaraan pH larutan. Kenaikan pH akibat penambahan basa tidak dapat ditentukan secara matematis. Hal ini disebabkan faktor waktu yang digunakan dalam penetesan, kesempurnaan pengadukan dengan magnetik stirrer sehingga diperoleh larutan yang homogen, dan kepekaan pH meter yang digunakan.

pH meter  merupakan suatu elektroda gelas atau kaca, dimana diketahui bahwa elektroda gelas merupakan elektroda yang paling sensitif karena membrannya sensitif  terhadap ion H+ serta paling sering digunakan, namun satu kelemahan yang utama dari elektroda ini yaitu tidak efektif pada pengukuran pH di atas 10. Dari grafik hubungan volume dan GGL mula-mula Nampak terjadi keseragaman data namun sebelum titik ekivalen terjadi penurunan (tanda Negatif) setelah itu titik ekivalen tercapai. Sesudah titik ekivalen tercapai, kurva kembali melandai. Titik ekivalen merupakan titik pada saat dimana tercapainya suatu kesetimbangan kimia dalam larutan. Kesetimbangan kimia terjadi pada saat laju pembentukan produk sama dengan laju penguraian reaktan.

Grafik yang ditunjukkan pada percobaan menunjukan adanya perubahan pada turunan 1 dan 2 yaitu terjadi perubahan yang drastis yaitu mula-mula kurva turun tajam kemudian melonjak tinggi. Titik ekuivalen ditunjukkan oleh kurva yang mengalami kenaikan yang cukup drastis. Setelah titik ekuivalen tercapai, maka konsentrasi asam oksalat dapat dihitung melalui nilai pH pada titik kesetaraan. Grafik yang diperoleh bervariasi,  dengan kurva naik turun dan tidak linear. Grafik hubungan antara volume NaOH dengan pH larutan tersebut didapatkan berbentuk integral seperti pada literatur. Dari semua grafik yang diperoleh, grafik tersebut memiliki puncak dan penurunan pH  yang sangat drastis pada saat penambahan larutan NaOH.

Penentuan konsentrasi HCl menggunakan NaOH sebagai titrannya. TE pada grafik pertama terbentuk ketika titrasi mencapai volume 12 ml, turunan pertama pada volume 10,5 ml, dan turnan kedua pada volume 11,5 ml. Grafik kedua TE terbentuk ketika titrasi mencapai volume 12 ml, 11 ml, dan 11,5 ml. TE pada grafik ketiga terbentuk ketika titrasi mencapai volume 12 ml, 10,5 ml, dan 11 ml. Dari ketiga grafik tersebut TE dicapai dengan rata-rata volume titran yang hampir sama dan kenormalan NaOH nilainya tidak berbeda jauh. Hal ini menunjukan percobaan ini berhasil karena hasilnya konstan dari ulangan 1, 2, dan 3.

  1. VI. Simpulan

Alkalimetri menggunakan metode penetralan asam basa, indikator fenolftalein untuk menentukan titik ekivalen dan basa kuat sebagai titrannya. Rata-rata kenormalan NaOH hasil standardisasi adalah 0,0930 N dengan nilai SD 1.77×10-3 dan nilai ketelitian 100.1075 % Nilai SD yang kecil dan tingginya nilai ketelitian menunjukan ketepatan hasil percobaan. Titrasi potensiometri merupakan metode elektroanalisis suatu zat dengan menggunakan elektroda pembanding dan elektroda indikator dan dalam percobaan ini digunakan untuk menentukan konsentrasi asam oksalat. TE standardisasi NaOH pada grafik pertama, kedua, dan ketiga rata-rata membentuk TE ketika titrasi mencapai volume 11,5 ml dengan. Penentuan konsentrasi HCl TE terbentuk pada grafik pertama, kedua, dan ketiga rata tercapai ketika titrasi mencapai volume 12 ml. TE adalah Titik dimana peningkatan pH mengalami lonjakan yang cukup besar merupakan titik pH dimana larutan mencapai kesetaraan yaitu sebagai titik kesetaraan.

  1. VII. Daftar Pustaka

Bassett J et al. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Day RA dan AL Underwood. 1981. Analisa Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.

Harjadi W. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia.

Khopkar  S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Universitas Indonesia Press.

Rivai Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta: UI Press.

Nama               : Moh. Qomarudin

NIM                : G34070123

ISOLASI (ELUSI) FRAGMEN DNA PLASMID DARI GEL AGAROSA

  1. I. Hasil pengamatan

  1. II. Pembahasan

Analisis fragmen DNA secara tidak langsung mendeteksi perbedaan tertentu dalam urutan nukleotida molekul-molekul DNA. Dalam percobaan ini menggunakan elektroforesis gel untuk memilah bedasarkan ukuran fragmen DNA yang dihasilkan dari molekul yang panjang dengan suatu enzim restriksi. Campuran DNA dengan enzim restriksi akan menghasilkan pita yang khas, yang menunjukkan molekul awal DNA dan enzim yang digunakan. Molekul DNA plasmid yang relatif kecil dapat diidentifikasi hanya bedasarkan fragmen-restriksi.

Hasil pengamatan setelah dilakukan running pada elektroforesis pada fragmen DNA maka didapatkan data berupa gambar, hasil yang diperoleh menunjukkan semua kelompok hampir tidak mendapatkan hasil DNA, kecuali kelompok 4 yang terdapat pita. Hal tersebut mungkin disebabkan kontaminasi akibat dari kurang sterilnya saat pengerjaan atau praktikan kurang teliti dalam melaukan rangkaian percobaan sehingga DNA plasmid tertinggal dan tidak terambil. Keberadaan plasmid DNA dilihat dari sumur-sumur gel yang menghasilkan pita pada saat running. Kegunaan larutan penyangga atau buffer elusi adalah untuk melicinkan DNA saat di saring pada tabung ependoft, penambahan etanol Na asetat bermuatan positif berfungsi untuk mengikat molekul DNA yang bermuatan negatif. Setelah diikat dengan etanol dilakukan inkubasi dan sentrifuse untuk memisahkan larutan dengan DNA.

  1. III. Kesimpulan

percobaan ini dapat dikatakan kurang berhasil karena sebagian besar kelompok tidak memperoleh pita DNA setelah dilakukan running. Kesalahan tersebut diakibatkan oleh praktikan yang kurang teliti dalam melakukan tahapan-tahapan percobaan yang mana dituntut bekerja dengan ketelitian tinggi serta steril. Karena bekerja dengan sesuatu yang berukuran mikro.

  1. IV. Pustaka Acuan

Campbell NA, Reece JB, Mitchell LG. 2002. Biologi jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Nama               : Moh. Qomarudin

NIM                : G34070123

ISOLASI PLASMID DAN ELEKTROFORESIS PADA GEL AGAROSA

  1. I. Pendahuluan

Agarosa gel elektroforesis adalah metode yang digunakan dalam biokimia dan biologi molekular untuk memisahkan DNA, atau RNA molekul berdasarkan ukuran. Hal ini dicapai dengan memindahkan molekul asam nukleat yang bermuatan negatif melalui agarosa matriks dengan medan listrik (elektroforesis). Molekul yang lebih pendek/kecil bergerak lebih cepat dan bermigrasi lebih jauh daripada yang lebih panjang/besar.

Asam nukleat laju migrasinya berbanding terbalik dengan ukuran molekulnya. Asam nukleat membawa muatan negatif pada gugus fosfatnya yang proposional dengan panjangnya, tetapi belukar serat polimer didalam gel lebih menghambat fragmen yang lebih panjang daripada yang lebih pendek. (Campbell at al. 2002)

Plasmid merupakan Sebuah kromosom tambahan DNA yang merupakan molekul terpisah dari DNA. Berupa DNA sirkuler atau DNA yang membentuk lingkaran, beruntai ganda serta mampu secara independen bereplikasi. Plasmid juga mengandung berbagai gen. jenis, jumlah jenis, dan jumlah tiap jenis (copy) Plasmid bervariasi antar sel. Bahkan antar sel dalam satu spesies bakteri. Ukuran plasmid bervariasi dari 1 sampai lebih dari 1.000 kilobase pasang (kbp). Jumlah plasmid identik dalam satu sel dalam keadaan tertentu dapat berkisar dari satu sampai ribuan, Plasmid dapat dianggap sebagai bagian dari mobilome, karena mereka sering dikaitkan dengan konjugasi, sebuah mekanisme transfer gen horizontal. Istilah plasmid ini pertama kali diperkenalkan oleh Amerika ahli biologi molekuler Joshua Lederberg pada tahun 1952. (Sambrook & Russel 2001).

  1. II. Tujuan
  • Mengetahui dan dapat mengisolasi plasmid untuk vector cloning.
  • Mengetahui cara mendeteksi DNA dengan gel agaros.
  1. III. Hasil pengamatan
Kelompok Konsentrasi λ230 λ260 λ280 Kemurnian
1 20,0020 1,538 2,002 1,287 1,096
2 19,780 1,511 1,928 1,740 1,137
3 19,710 1,501 1,971 1,731 1,139
4 19,710 1,507 1,971 1,668 1,182
5 19650 1,494 1,965 1,693 1,161
6 19790 1,500 1,979 1,790 1,106
7 19910 1,532 1,991 1,803 1,104
8 19950 1,521 1,995 1,821 1,096
9 19720 1,495 1,972 1,811 1,089
10 20110 1,547 2,011 1,872 1,074

Contoh Perhitungan Ulangan ke 9

Konsentrasi DNA λ = 10 ng/µL

DNA plasmid  = 10 µL

dH2O               = 1490 µL

sumur pada gel

Visualisasi DNA plasmid                                    kelompok 9

  1. IV. Pembahasan

Faktor yang paling penting pada proses elektroforesis adalah panjang molekul DNA, molekul yang lebih kecil akan lebih mudah berjalan atau dapat lebih jauh. Tetapi konformasi molekul DNA juga merupakan suatu faktor. Untuk menghindari masalah ini molekul linear DNA biasanya dipisahkan, dengan supernatant dan PCR. Untuk Meningkatkan konsentrasi agarosa gel migrasi mengurangi kecepatan dan memungkinkan pemisahan molekul DNA yang lebih kecil. Semakin tinggi tegangan, DNA semakin cepat bergerak. Tetapi tegangan dibatasi oleh kenyataan bahwa ia memanaskan dan akhirnya menyebabkan gel mencair. Tegangan tinggi juga menurunkan resolusi (di atas 5-8 V / cm).  Konformasi DNA plasmid yang belum dipotong dengan enzim restriksi akan bergerak dengan kecepatan yang berbeda antara plasmid linier dan plasmid supercoil.

Pewarna yang paling umum digunakan untuk membuat DNA atau RNA dapat terlihat pada saat elektroforesis gel agarosa adalah ethidium bromida (EtBr). Yang dapat menyala di bawah sinar UV. Setiap band yang mengandung lebih dari ~ 20 ng DNA menjadi jelas terlihat. Namun EtBr diketahui sebagai mutagen. Bahkan pencahayaan yang singkat asam nukleat sinar UV menyebabkan kerusakan yang signifikan pada sampel. UV merusak sampel dengan mengurangi efisiensi manipulasi berikutnya, seperti ligasi dan kloning. Jika DNA itu akan digunakan setelah perpisahan pada gel agarosa, yang terbaik adalah untuk menghindari paparan sinar UV dengan menggunakan sumber eksitasi cahaya biru seperti Xcitablue UV terhadap cahaya biru layar konversi dari Bio-Rad atau Dark Reader dari Clare Chemicals .

EtBr sebagai pewarna DNA tidak terlihat dalam cahaya alami, ilmuwan mencampur bermuatan negatif DNA dengan loading dye (bufer) sebelum menambahkan campuran ke dalam gel. Loading buffer berguna karena mereka terlihat dalam cahaya alami (sebagai lawan dari sinar UV untuk bernoda EtBr DNA), dan mereka bersama-sedimen dengan DNA (berarti mereka bergerak dengan kecepatan yang sama seperti DNA panjang tertentu). bufer yang digunakan untuk elektroforesis agarosa. Yang paling umum adalah: Tris Asetat  EDTA (TAE), Tris borat EDTA (TBE) dan lithium borat (LB). TAE memiliki kapasitas bufering terendah tetapi memberikan resolusi terbaik untuk DNA yang lebih besar. Ini berarti tegangan yang lebih rendah dan lebih banyak waktu, tetapi produk yang lebih baik. LB relatif baru dan tidak efektif dalam memecahkan fragmen-fragmen yang lebih besar dari 5 kbp; Namun, dengan konduktivitas rendah, serta mampu digunakan pada tegangan yang lebih tinggi (sampai 35 V/ cm), yang berarti analisis yang lebih singkat waktu untuk rutin elektroforesis.

Plasmid adalah unsur genetik mampu secara otonom bereplikasi dalam inang yang cocok. Plasmid dapat ditemukan dalam tiga besar domain, Archea, Bakteri dan Eukarya. Sama dengan virus, plasmid tidak dianggap sebagai satu bentuk kehidupan. Tidak seperti virus, plasmid merupakan DNA telanjang dan tidak menyandikan gen. Plasmid host-to-host memerlukan transfer langsung, yaitu berupa transfer mekanik dengan konjugasi atau perubahan dalam ekspresi gen inang membiarkan pengambilan unsur genetik dengan transformasi.

Transformasi dengan DNA plasmid bukanlah parasit maupun simbiosis di alam, karena masing-masing membutuhkan yang tidak merugikan antar spesies maupun dengan inangnya. Sebaliknya, plasmid menyediakan mekanisme untuk mentransfer gen horisontal dalam populasi mikroba dan biasanya memberikan keuntungan selektif di bawah keadaan lingkungan tertentu. Plasmid dapat membawa gen-gen yang memberikan ketahanan terhadap antibiotik alami dalam lingkungan yang kompetitif, atau sebagai alternatif protein yang dihasilkan dapat bertindak sebagai racun dalam kondisi yang sama. Plasmid juga dapat memberikan keuntungan pada bakteri berupa kemampuan untuk memperbaiki unsur nitrogen atau untuk menurunkan senyawa organik yang tahan terhadap pencairan di alam dan memberikan keuntungan dalam kondisi kekurangan gizi.

  1. V. Simpulan

Setelah melalui proses percobaan maka dapat terlihat bahwa kelompok kami (9) berhasil mengisolasi plasmid hal tersebut terlihat pada saat elektroforesis terlihat paling cepat dibandingkan dengan kelompok yang lain, sesuatu yang sangat mempengaruhi laju DNA adalah besar kecilnya molekul DNA. Gel dalam foto ketika diletakkan dibawah UV berpendar merah pada setiap lajur terlihat sejumlah pita merah jambuyang berkaitan dengan molekul DNA yang berbeda ukuran molekul yang lebih besar bergerak lebih lambat.

  1. VI. Daftar pustaka

Campbell NA, Reece JB, Mitchell LG. 2002. Biologi jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Sambrook J, Russel DW (2001). Ed. Molecular Cloning: A Laboratory Manual 3rd Ed. New York: Cold Spring Harbor Laboratory Press.

Brody  JR, Kern SE (2004): Sejarah dan prinsip-prinsip media konduktif standar elektroforesis DNA. Anal Biochem. 333 (1):1-13.